Selamat Datang Di Website Teknik Sipil Indonesia

Di website ini berbagi tentang ilmu pengetahuan dan informasi tentang Teknik Sipil, Arsitekture atau seputaran Dunia Konstruksi, Silahkan Bookmark website kami dengan menekan ctrl D agar lebih mudah mengakses di kemudian hari :)

Selamat Datang Di Website Teknik Sipil Indonesia

Di website ini berbagi tentang ilmu pengetahuan dan informasi tentang Teknik Sipil, Arsitekture atau seputaran Dunia Konstruksi, Silahkan Bookmark website kami dengan menekan ctrl D agar lebih mudah mengakses di kemudian hari :)

Selamat Datang Di Website Teknik Sipil Indonesia

Di website ini berbagi tentang ilmu pengetahuan dan informasi tentang Teknik Sipil, Arsitekture atau seputaran Dunia Konstruksi, Silahkan Bookmark website kami dengan menekan ctrl D agar lebih mudah mengakses di kemudian hari :)

Selamat Datang Di Website Teknik Sipil Indonesia

Di website ini berbagi tentang ilmu pengetahuan dan informasi tentang Teknik Sipil, Arsitekture atau seputaran Dunia Konstruksi, Silahkan Bookmark website kami dengan menekan ctrl D agar lebih mudah mengakses di kemudian hari :)

Selamat Datang Di Website Teknik Sipil Indonesia

Di website ini berbagi tentang ilmu pengetahuan dan informasi tentang Teknik Sipil, Arsitekture atau seputaran Dunia Konstruksi, Silahkan Bookmark website kami dengan menekan ctrl D agar lebih mudah mengakses di kemudian hari :)

Sabtu, 23 Mei 2015

Hubungan antara Resiko Gempa dengan Kekuatan Bangunan

Hubungan antara Resiko Gempa dengan Kekuatan Bangunan

Dalam hal ini melihat kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa maka harus disadari bahwa resiko gempa tersebut adalah sangat tinggi terjadi terutama di daerah-daerah yang masuk ke dalam jalur-jalur gempa seperti yang telah disebutkan sebelumnya termasuk Indonesia dimana Indonesia terletak dalam dua buah jalur gempa yang tentu harus disadari bahwa resiko gempa di Indonesia cukup tinggi.

Dari kenyataan tersebut maka diperlukan suatu kajian atau perencanaan yang sungguh-sungguh dan mendalam mengenai kegempaan suatu wilayah untuk meminimalkan bencana yang terjadi (terutama efeknya terhadap bangunan-bangunan infrastruktur yang ada di masyarakat). 

Untuk itu perlu kiranya kita lihat label di bawah ini yang mana merupakan suatu saran dari ATC (Applied Technology Council) terkait dengan perencanaan suatu struktur bangunan (menyangkut kekuatan dari struktur bangunan tersebut) didasarkan atas tingkat resiko gempa yang terjadi atau diterima oleh struktur bangunan yang direncanakan. 

Saran dari ATC ini kiranya dapat menjadi acuan dalam perencanaan suatu struktur bangunan yang juga akan terkait dengan nilai ekonomis dari bangunan yang bersangkutan.



Tabel Saran dari ATC (Applied Technology Council)
Tingkat Gempa
Akibat Gempa
Gempa besar
Struktur boleh rusak tetapi tidak parah sehingga tidak terjadi keruntuhan agar tidak terjadi korban jiwa
Gempa sedang
Bagian non struktur boleh rusak tetapi bagian struktur tidak boleh rusak
Gempa kecil
Tidak boleh ada kerusakan

Dari dasar acuan tersebut di atas akhirnya dapat juga diperkirakan biaya dari suatu bangunan dimana dalam memperkirakan biaya bangunan harus memperhatikan biaya pembuatan bangunan dan biaya perbaikan akibat kerusakan yang disebabkan oleh gempa selama bangunan itu berdiri


Gambar
Grafik hubungan biaya dengan kekuatan bangunan

Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat kekuatan bangunan semakin besar biaya pembuatannya tetapi semakin murah biaya perbaikannya.


Contoh Kerusakan Konstruksi Akibat Gempa

Kerusakan Konstruksi Akibat Gempa

Sudah tidak dapat dipungkiri bahwa gempa bumi merupakan salah satu fenomena alam yang selalu menimbulkan kerugian baik dari segi material (kerusakan konstruksi gedung) maupun merenggut jiwa manusia. Berikut ini diberikan beberapa contoh peristiwa gempa yang terjadi disertai dengan analisa terjadinya dan atau kerugian yang ditimbulkannya 

1 Gempa di Anchorage (Alaska)
Keadaan tanahnya adalah clay (lempung). Pada tanah lunak (clay) getaran gempa teredam sehingga menjadi getaran harmonis. Getaran harmonis sangat berbahaya karena apabila waktu getarnya sama dengan waktu getar gedung akan terjadi amplifikasi.

2 Gempa yang meruntuhkan gedung J.C. Penny
Gedung ini runtuh akibat terjadinya puntiran karena pusat massa tidak berimpit dengan pusat kekakuan.

3 Gempa di Kawagishi Cho Niigata
Disebabkan oleh liguefacition dimana tanah pasir yang butirannya lepas apabila jenuh air dan menerima getaran akan terjadi satlement.

4 Peristiwa gempa yang dikenal sebagai Sasa Guchi Overpass
Pwristiwa dengan membukanya pilar (bergerak memuntir) sehingga balok induknya jatuh.

5 Gempa di Caracas Venezuela
Karena overtunning moment yaitu timbulnya momen kelebihan akibat simpangan. Gedung bertingkat banyak mempunyai rangka beton bertulang untuk menahan beban vertikal dan horisontal. Dinding dibuat dari tembok bata yang diisikan dalam rangka beton bertulang. Hanya berat tembok saja yang diperhitungkan tidak memperhatikan pengaruh kekakuan tembok yang mempengaruhi kekakuan rangka, momen tambahan menyebabkan sebagian besar kolom rusak.

6    Gempa di San Fernando
Shear wall dipakai tetap, tingkat satu tidak sehingga gaya lateral hanya ditahan oleh kolom saja. Kolom pada tingkat satu mengalami defleksi horisontal. Keadaan ini disebut soft storey (lemah pada satu tingkat).

7    Gempa yang merusak Mental Healt Building
Pemasangan tembok yang tidak simetris sehingga gedung menerima puntiran (momen puntir).

8    Gempa di Burdur (Turki)
Gedung rangka beton bertulang dengan tembok pengisi pada rangka terbawah tetapi tingginya hanya sampai 50 cm dibawah balok lantai diatasnya. Perencana menganggap konstruksi ini sebagai rangka kosong dengan kolom setinggi 4m padahal tinggi kolom hanya 50 cm karena yang 3,50m dijepit oleh tembok, hal ini mengakibatkan gaya geser yang dipikul kolom lebih besar dari hitungan perencana (Short Column Effect).

9    Gempa di Kobe, Jepang (1995)
Menyebabkan terjadinya banyak kerusakan pada bangunan sipil seperti jalan kereta api bawah tanah, jalan layang, gedung' perkantoran, pelabuhan dan perumahan yang menelan sekitar 5300 korban jiwa.


10  Gempa Maumere di Flores (1992); Liwa, Lampung (1994); Banyuwangi (1994)
Peristiwa gempa yang disebutkan di atas adalah contoh gempa bumi yang terjadi di Indonesia, dimana gempa di Flores memakan korban lebih dari 2000 jiwa. ribuan bangunan roboh, ratusan kelongsoran dan terjadi kerusakan lingkungan disertai dengan terjadinya tsunami yang juga terjadi pada gempa

Contoh yang diberikan di atas merupakan sebagian kecil dari peristiwa gempa yang terjadi di belahan bumi ini, masih banyak lagi peristiwa serupa yang terjadi dengan kerusakan yang ditimbulkannya

Kuda-kuda dari Kayu

Kuda-kuda dari Kayu

Pada pembuatan kuda-kuda dari kayu yang harus diperhatikan adalah penempatan sambungan , karena sambungan merupakan titik terlemah dari struktur kuda-kuda kayu. Oleh karena itu sambungan harus ditempatkan pada gaya atau momen yang minimum. Disamping itu sambungan harus dirancang sedemikian rupa sehingga perlemahan dapat ditekan sekecil mungkin. 

Biasanya sambungan kayu lebih lemah memikul gaya tarik daripada memikul gaya tekan oleh karena itu untuk menyederhanakan bentuk sambungan pada titik buhul, maka pada gaya batang yang cukup besar supaya diusahakan berupa batang tekan karena pada batang tekan bentuk hubungan dapat dibuat bentuk gigi yang syarat-syaratnya tidak memerlukan tempat yang luas, 

sedangkan pada batang yang mendukung gaya tarik yang besar akan membutuhkan alat sambung baut cukup banyak jumlahnya sehingga pengaturan letak baut yang memenuhi syarat akan memerlukan tempat yang luas dan dapat menyulitkan pengerjaan sambungan.

Ukuran kayu kuda-kuda biasanya tidak ditentukan oleh perhitungan yang disebabkan karena beban, melainkan banyak ditentukan oleh persyaratan cara-cara penempatan/letak alat sambung padahal ukuran kayu kuda-kuda pada umumnya sudah cukup aman. Tetapi walaupun demikian sebaiknya harus dihitung apakah tegangan yang timbul pada tiap-tiap batang telah memenuhi syarat, artinya tegangan yang timbul harus lebih kecil daripada tegangan yang diijinkan.


Beugel-beugel (sengkang) yang dipasang pada hubungan kuda-kuda sangat berguna untuk membuat hubungan pada tiap-tiap titik buhul agar menjadi mantap kedudukannya sehingga dapat diharapkan tidak terjadi perubahan akibat pergeseran kedudukan batang pada hubungan-hubungan tersebut.

KUDA KUDA ATAP

KUDA-KUDA

Kuda-kuda pada umumnya merupakan suatu struktur penyangga atau pendukung utama dari struktur atap, sehingga bentuk kuda-kuda dibuat serupa dengan bentuk atapnya.

Kuda-kuda dibentangkan bebas di atas dua tumpuan atau perletakan yaitu dinding/ tembok yang terletak di bagian tepi bangunan/gedung. sehingga dengan demikian perencana dapat mengatur pembagian ruangan dengan leluasa. kecuali itu pada gedung-gedung pertemuan, show room atau gedung pameran, bengkel, pabrik dan sebagainya dimana dibutuhkan ruangan yang luas tanpa ada tiang-tiang tengah, maka penerapan struktur kuda-kuda sebagai kerangka penyangga struktur atap sangat tepat.

Struktur kuda-kuda harus memenuhi syarat kuat, ekonomis, dan kaku /tidak boleh berubah bentuk ( deformasi ), untuk itu dipilih susunan dari beberapa bentuk segitiga hingga menjadi bentuk kuda-kuda sesuai dengan bentuk atap yang didukungnya, sebab susunan bentuk segitiga tidak mudah berubah/bergoyang.

Beban atap yang harus didukung oleh kuda-kuda melalui gording-gording sedapat mungkin diterima tepat pada titik buhul, Sehingga gaya-gaya yang bekerja pada struktur rangka batang hanyalah gaya normal tekan dan tarik saja. penempatan gording tepat diatas titik buhul juga bertujuan untuk menghindarkan terjadinya momen lentur. Didalam praktek biasanya terdapat penyimpangan-penyimpangan ini supaya diusahakan sekecil mungkin sehingga struktur secara teknis dapat dipertanggung jawabkan.

Macam-macam Bentuk Atap Bangunan

Macam-macam bentuk atap

Atap merupakan bagian bangunan yang berperan penting dalam keindahan bentuk bangunan bahkan kadang kala atap menjadi suatu ciri khas dari sebuah bangunan atau ciri khas daerah tertentu .

Oleh karena itu arsitek sering kali membuat bentuk atap yang aneh atau lain dari pada yang lain. Namun demikian secara umum bentuk atap dibedakan menjadi beberapa macam antara lain: 


1. Atap Pelana

Bentuk atap seperti ini biasanya dipakai pada rumah-rumah sangat sederhana, karena bentuknya yang sederhana, gampang membuatnya dan biayanya ekonomis. bahan yang sering dipakai adalah bahan yang berbentuk lembaran seperti asbes, seng dan sebagainya. Model seperti ini dipilih dimaksudkan agar tidak banyak diperlukan pemotongan atap untuk membuat sudut jurai luar.


Gambar Atap Pelana



2. Atap Limas

Untuk rumah dengan denah persegi panjang. Bentuk atap seperti ini paling banyak dipakai karena bentuknya bagus, mempunyai kemiringan ke empat arah dengan puncak memanjang. Bentuk atap ini paling aman dan mudah perawatannya . Bahan atap yang sering dipakai adalah genteng karena murah , mudah memasang dan tidak diperlukan pemotongan bahan .



Gambar Atap Limas



3. Atap Tenda

Untuk bangunan yang memiliki denah persegi, paling banyak memilih bentuk atap tenda . Bentuknya hampir sama dengan atap limas , memiliki kemiringan ke empat arah , hanya puncak satu titik ditengah (gambar 4.3) . Dinamakan atap tenda karena bentuknya menyerupai tenda yang keempat sudutnya diikat dan ditengah-tengah ditopang dengan satu tiang. Bahan yang sering dipakai Atap model ini adalah genteng, sirap dan sebagainya.


Gambar Atap tenda



4. Atap Joglo 

Bentuk atap seperti ini banyak dipakai pada rumah tradisional Jawa. Atap seperti ini bisa dipakai untuk denah bujur sangkar ataupun persegi panjang. Struktur atap ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian atas yang mempunyai kemiringan lebih curam dan bagian bawah ( bagian luar ) memiliki kemiringan lebih landai. Oleh karena itu terjadi patahan atap pada gording. Besarnya sudut kemiringan atap bagian bawah dan atas tergantung dari bahan yang dipakai. Karena bentuk atap seperti ini mengutamakan keindahan, maka bahan yang dipakaipun harus yang memiliki nilai artistik.     



Gambar Atap Joglo.





5. Atap Mansard

Bentuk atap mansard ini merupakan kebalikan dari atap joglo. pada atap joglo patahannya kedalam, sedangkan pada atap mansard patahannya keluar. sehingga sudut kemiringan atap bagian atas lebih kecil dari sudut kemiringan atap bagian bawah. bentuk. Bentuk atap seperti ini banyak kita jumpai pada bangunan lumbung padi, tetapi di Bali patahan ini dibuat lebih halus sehingga mendekati lengkung. 



Gambar Atap Mansard.





6. Atap Kubah 

Atap kubah mempunyai tampak depan dan tampak samping berbentuk lengkung/ setengah lingkaran. Sedangkan tampak atasnya bisa berbentuk segi 8, segi banyak beraturan sampai berbentuk lingkaran ( gambar 4.6 ). Bentuk atap seperti ini banyak kita jumpai pada atap puncak dari bangunan mesjid, teater IMAX Keong Emas dan sebagainya. Pembuatan atap seperti ini memang membutuhkan lebih banyak bahan karena daya tutupnya relatif lebih kecil dan banyak dilakukan pemotongan bahan. Disamping itu pengerjaannya memerlukan keahlian dan ketelitian yang tinggi.


Gambar Atap Kubah



7. Atap Gergaji

Untuk bangunan yang luas ( panjang dan lebar ), seperti bangunan pabrik, hangar dan sebagainya, jika dibuat atap limas atau bentuk lain, maka akan didapat tinggi atap yang sangat tinggi. Hal ini tidak sesuai dengan tinggi bangunan sehingga kesannya keberatan atap. Oleh karena itu luas bidang atap dibagi-bagi menjadi beberapa bagian. Pada setiap bagian dibuat atap dengan satu kemiringan dengan emperan sebagai pencegah tetesan air hujan dari depan. Bentuk atap dengan satu kemiringan ini menyerupai gigi gergaji, sehingga disebut atap gergaji ( gambar 4.7 ). Disamping itu juga bentuk atap seperti ini dimaksudkan untuk memperoleh ventilasi dibawah atap emperan. 


Gambar Atap Gergaji.

Pengertian Atap dan Syarat Syarat Atap Bangunan



Atap adalah bagian dari stuktur bangunan yang berfungsi sebagai penutup sekaligus melindungi bangunan beserta penghuninya dari hujan dan panas matahari. Disamping itu atap juga mempunyai fungsi estetika dalam arti juga berperan untuk keindahan bentuk bangunan . Oleh karena itu seorang arsitek tidak jarang mengharuskan pemiliknya mengeluarkan biaya ekstra untuk memperoleh bentuk atap yang diinginkan .

Syarat-syarat atap.

Oleh karena atap mempunyai fungsi ganda, maka bahan atap harus memenuhi beberapa syarat yaitu :
·         Kuat dalam artian tidak mudah pecah atau rusak yang disebabkan kejatuhan benda , atau pada saat perbaikan .
·         Awet, dalam artian atap harus terbuat dari bahan yang tahan terhadap cuaca, hujan atau panas serta tidak mudah lapuk .
·         Indah, karena atap terlihat langsung dari luar bahkan dari jauh, maka atap juga harus terbuat dari bahan yang mempunyai bentuk tekstur yang indah.
·         Fungsional, dalam artian atap harus terbuat dari bahan yang dapat mengalirkan air dengan cepat, tidak menyerap air, dan tidak panas jika kena sinar matahari, serta tidak dingin jika malam hari.
·         Ekonomis, dalam artian bahan atap harus mudah didapat , mudah dikerjakan dan mudah biayanya tanpa mengurangi persyaratan diatas.

Rabu, 20 Mei 2015

Rangka Bambu

Rangka Bambu

Tersedianya bambu yang cukup melimpah di sebagian besar belahan bumi dan sifat mekanisnya yang sangat baik (terutama kuat tariknya), membuat bambu cukup menarik dijadikan sebagai bahan alternatif yang murah untuk material bangunan, baik untuk rangka struktur utamanya, rangka atap, dinding bahkan saat ini penelitian terus dilakukan terhadap penggunaan bambu sebagai tulangan beton. 

Kelebihan bambu adalah dapat diperbaharui, mudah tumbuh, relatif lebih murah dari pada baja, dan memiliki kuat tarik yang mendekati kuat tarik baja (200 - 400 Mpa). Salah satu kelemahan bambu adalah tidak meratanya kekuatan bambu di ruas bawah dengan ruas atas (tergantung juga pada umur bambu), diameter bambu yang bervariasi (tergantung jenis bambu) dan sifat bambu yang mudah lapuk dan kembang-susutnya yang tinggi sehingga daya lekatnya dengan beton dapat berkurang. Jadi teknik pengawetan bambu perlu mendapat perhatian lebih jika ingin menggunakan bambu sebagai bahan bangunan. 


Gambar Foto penggunaan bambu untuk rangka bangunan gedung



Berikut tabel kuat lentur bambu berdasarkan pengujian yang tealah dilakukan di beberapa negara.

Tabel Kuat Lentur Bambu

Year
Height
SG
MOR (MPa)
MOE (MPa)

Bottom
0.49
110.3
7770
One
Middle
0.53
119.3
8680

Top
0.54
117.2
8929

Bottom
0.70
151.0
10039
Three
Middle
0.71
151.7
10122

Top
0.72
160.6
10397

Bottom
0.75
186.2
13162
Five
Middle
0.78
184.8
13410

Top
0.76
183.4
13307



luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

Recent Posts